Kebakaran Hutan di Kalimantan Krisis Ekologi, Kesehatan, dan Ekonomi yang Berulang

dampak kebakaran hutan kalimantan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menjadi bencana tahunan yang kian meluas. Pada Agustus 2026, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat setempat, tetapi juga telah mengganggu negara tetangga, memicu dampak kesehatan jangka panjang, dan mengancam kelangsungan hidup satwa endemik Kalimantan .

Ancaman bagi Kesehatan dan Pendidikan

Kabut asap pekat yang dihasilkan kebakaran di Kalimantan menyebabkan lonjakan kasus gangguan pernapasan. Kementerian Kesehatan mencatat kasus ISPA pada 2026 menembus angka 400 ribu per minggu, dengan kabut asap menjadi salah satu pemicu utamanya .

Sektor pendidikan juga terdampak signifikan. Sejumlah daerah seperti Kubu Raya dan Pontianak meliburkan aktivitas sekolah . Di Kotawaringin Barat, Dinas Pendidikan menunda jam masuk sekolah dasar dan menengah pertama hingga pukul 08.00 WIB, sementara PAUD dialihkan ke pembelajaran jarak jauh .

Pakar kesehatan Dicky Budiman mengingatkan bahwa paparan asap kebakaran hutan berpotensi memberikan dampak kesehatan selama bertahun-tahun karena partikel halus dapat masuk ke dalam tubuh dan memicu gangguan pada berbagai organ .

Kerugian Ekonomi dan Gangguan Transportasi

Karhutla mengganggu aktivitas ekonomi di wilayah terdampak. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa kegiatan ekonomi terganggu, ditambah dengan kebutuhan biaya penanggulangan yang besar .

Jarak pandang yang turun drastis hingga 1,4 kilometer di sejumlah wilayah mengganggu transportasi dan aktivitas penerbangan . Kabut asap tahun ini bahkan dinilai lebih pekat dibandingkan 2025 dan dampaknya menjangkau negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam . Kondisi ini menjadikan karhutla sebagai persoalan lingkungan lintas batas yang memicu ketegangan diplomatik .

Krisis Ekologi: Habitat Satwa Liar Terancam

Musim kemarau panjang dan kebakaran hutan mendorong satwa liar keluar dari habitat aslinya untuk mencari makan dan air, meningkatkan potensi konflik antara satwa dan manusia .

Orangutan Terusir dari Habitat

Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang tidak terkendali mempercepat kerusakan habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan dan tempat tinggal, akhirnya terdorong masuk ke kebun warga .

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mencatat bahwa karhutla berulang di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, memicu siklus konflik berkepanjangan antara orangutan dan warga. “Orangutan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik yang sama,” ujar Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul .

Bekantan Terancam Punah

Di Kalimantan Selatan, kebakaran mulai mengancam habitat bekantan di pesisir Sungai Rutas, Kabupaten Tapin. Saat karhutla besar melanda pada 2015, puluhan bekantan ditemukan mati akibat gangguan pernapasan setelah menghirup asap pekat .

Ketua Kader Konservasi Rindang Lestari Syahrani mengingatkan bahwa saat ini sedikitnya sembilan koloni bekantan masih menghuni sepanjang pesisir Sungai Rutas. Jika kebakaran meluas ke kawasan pesisir, populasi bekantan bisa terancam .

Gangguan Jalur Migrasi Satwa

Menipisnya tutupan hutan menyebabkan kemampuan alam menahan kekeringan semakin lemah. Founder Conservation Action Network (CAN) Paulinus Kristanto menjelaskan bahwa fragmentasi lahan membuat jalur migrasi satwa terputus-putus .

Untuk mencapai kawasan hulu sungai yang masih asri, satwa seperti beruang dan kera ekor panjang sering harus melintasi kawasan konsesi perusahaan yang menyulitkan pergerakan mereka .

Sejarah Panjang Krisis yang Berulang

Karhutla di Kalimantan adalah fenomena berulang setiap musim kemarau. Peristiwa terbesar terjadi pada 1997–1998 ketika El Niño memicu kebakaran yang melanda lebih dari 9 juta hektare lahan, menjadi bencana lingkungan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-20 .

Setelah itu, kejadian serupa kembali terjadi dalam skala besar pada 2006, 2013, dan 2015. Kebakaran tahun 2015 menjadi salah satu yang terparah dengan luas area terbakar sekitar 2,6 juta hektare .

Berdasarkan data MapBiomas Fire, sekitar 61 persen karhutla terjadi antara September hingga November dengan puncaknya pada Oktober . Data BNPB per 19 Agustus 2026 mencatat 1.487 titik panas di seluruh Kalimantan, dengan Kalimantan Tengah menjadi episentrum kebakaran (767 titik) .

Dampak kebakaran hutan di Kalimantan bersifat multidimensi dan tidak hanya dirasakan saat kebakaran terjadi. Kerusakan ekosistem, ancaman kesehatan, gangguan ekonomi, dan krisis satwa liar menciptakan siklus bencana yang berulang.

Diperlukan pendekatan jangka panjang yang berfokus pada pencegahan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, restorasi gambut, dan pemberdayaan masyarakat melalui alternatif pembukaan lahan tanpa bakar. Tanpa perubahan signifikan, karhutla akan terus menjadi ancaman tahunan bagi Kalimantan dan kawasan sekitarnya .

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *